Pernahkan terlintas dalam pikiranmu tentang bunuh diri? Sejujurnya pikiran itu pernah sekilas melintas dalam kepalaku dan sekarang sudah lenyap. Tak lama aku mendengar kabar di ITB ada seseorang mati karena bunuh diri. Perintis komputer, Alan Turing dikabarkan juga mati karena bunuh diri. Saat ini aku lupa apa yang kupikirkan saat itu dan bisa bertanya apa yang para pebunuhdiri pikirkan? Film The Grey, pada awalnya sang tokoh juga hendak bunuh diri tapi penulis cerita berkata lain. Ada takdir di sana. Ada beda antara hidup dan mati, antara ada dan tiada.,
Ada berbagai alasan yang terlalu panjang untuk diungkapkan mengapa seorang bunuh diri. Mungkin salah satunya adalah keberadaan yang sudah tak mempunyai guna dan keputusasaan. Ada juga yang tidak bunuh diri tapi hidup dalam kepurapuraan, ngasal yang penting jalan. Ini disebut seonggok daging yang berjalan. Dan jika ini terjadi dan/atau dirasa terjadi, sebaiknya bertanyalah siapa yang kamu cintai, siapa yang kamu rindukan. Mengutip lagi cerita film The Grey, selalu ada hal-hal yang pantas diperjuangkan untuk keberlangsungan hidup.
Di tahun ke 21 ku ini, aku mencoba memaknai perkataan guruku 5 tahun lalu, “Sepertinya rumahmu bakal berpindah-pindah” Sepertinya aku mulai sedikit memahaminya. Yang aku cintai dan rindui selalu berpindah dan mencoba mencari apapun yang lebih pantas dicintai dan dirindui (Allah SWT). Dan mulai sisa hari hingga mati, mari lihat epilog film The Grey lagi,
Once more into the fray
Into the last good fight i’ve ever known
live and die on this day…
live and day on this day…